KERAJAAN ACEH DARUSSALAM - SULTAN ISKANDAR MUDA- MASA PUNCAK KEJAYAAN ACEH

Minggu, 07 April 2013



Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam – yang menguasai Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris, dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.
Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyatukan seluruh wilayah semenanjung tanah Melayu di bawah panji kebesaran Kerajaan Aceh Darussalam. Dia juga telah berhasil menjalin hubungan diplomasi perdagangan dengan berbagai bangsa Asing, sehingga secara internasional Aceh tidak hanya dikenal sebagai sebuah negeri yang sangat kaya dengan berbagai sumber daya a!amnya, tetapi kekayaan itu benar-benar dapat dinikmati secara bersama oleh rakyatnya.Dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan, dia telah menempatkan para ulama dan kaum cerdik pandai pada posisi yang paling mulia dan istimewa. Sehingga pada masa pemerintahannya, Kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan tamaddun di Asia Tenggara yang paling banyak dikunjungi
oleh para kaum pelajar dari seluruh dunia.Selama lebih kurang 30 tahun masa pemerintahannya, yaitu (1606 - 1636 M) dia telah berhasil membawa Kerajaan Aceh Darussalam ke atas puncak kejayaannya, hingga mencapai peringkat kelima di antara kerajaan Islam terbesar di dunia.Silsilah, Kelahiran dan Masa Kecil Sultan Iskandar Muda Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mengenai tahun kelahiran Sultan Iskandar Muda. Namun dari hasil identifikasi atas beberapa sumber yang ada menegaskan bahwa dia lahir sekitar tahun 1583. (Denys Lombard, 1991: 225-226). Ibunya keturunan keluarga Raja Darul Kamal (Malaka) bernama Puteri Raja Indra Bangsa, yang juga dikenal dengan nama Paduka Syah Alam, Puteri Sultan Alaidin Ri’ayat Syah (1589-1604). Sultan Ri’ayat Syah adalah putera Sultan Firman Syah bin Sultan Inayat Syah. ( Hikayat Aceh : par. 16, 72). Sedangkan ayahnya bernama Sultan Alauddin Mansur Syah putera dari Sultan Abdul Jalil bin Sultan ’Alaiddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar (1539-1571). Pada kurun-kurun berikutnya keturunan ayahnya inilah yang dikenal sebagai keturunan Raja Makota Alam I (Denys Lombard: 1991, 223). 

Dengan demikian berarti Sultan Iskandar Muda merupakan percampuran darah Malaka dan Aceh.Pada masa kecilnya, Iskandar Muda yang dijuluki Raja Zainal atau Raja Silan ini sangat senang bermain boneka kuda, gajah dan biri-biri yang dapat bertarung yang terbuat dari emas. (Hikayat Aceh : par.124, 119). Selain itu dia juga ikut bermain panta,(Hikayat Aceh : par.124, 120) dan kalau pada malam hari ketika bulan terang dia mengadakan permainan meuraja-raja bersama teman-temannya (Zainuddin, 1957: 17). Pendidikan Sultan Iskandar Muda Sultan lskandar Muda yang pada masa bayinya sering disebut Tun Pangkat Darma Wangsa, (Zainuddin: 1957, 21) dibesarkan dalam lingkungan keluarga istana, sehinga sejak masa kecilnya telah mengetahui bagaimana seluk beluk kehidupan adat dan tata kerama dalam istana, baik dalam hal sopan santun antar anggota keluarga raja maupun dalam urusan penyambutan tamu dan lain sebaginya. Sejak usia antara 4 dan 5 tahun kepadanya telah diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan Agama dengan cara menghadirkan ulama sebagai gurunya. Selain dia, ke dalam istana diikutsertakan juga teman-temannya yang lain untuk belajar bersama. (Zainuddin, 1957: 20)
Ketika usianya mencapai baligh, ayahnya menyerahkan Iskandar Muda bersama beberapa orang budak pengiringnya kepada Teungku Di Bitai (salah seorang ulama turunan Arab dari Baitul Mukadis yang sangat menguasai ilmu falak dan ilmu firasat). Dari ulama ini secara khusus dia mempelajari ilmu nahu. Melihat kecerdasan, ketekunan, kemuliaan sikap dan tingkah laku lskandar Muda telah menjadikannya sebagai salah seorang murid yang paling disayangi oleh Teungku Di Bitai. Karena itu, pada suatu hari
gurunya diilhami untuk memberikan satu nama kebesaran kepadanya dengan gelar Tun Pangkat Peurkasa Syah (Zainuddin, 1957: 27). Semenjak saat itu, panggilan  Peurkasaterhadap Iskandar Muda yang masih muda belia semakin populer bukan hanya di kalangan istana saja tetapi julukan itu semakin terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.Dalam kurun-kurun berikutnya, ayahnya Sultan Mansursyah mulai menerima kedatangan ulama-ulama terkenal dari Mekah, di antaranya Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar dan Sekh Muhammad Jamani yang keduanya ahli dalam bidang ilmu fiqah, tasawufdan ilmu falak. Selanjutnya hadir lagi seorang ulama yang sangat termasyhur dari Gujarat yakni Sekh Muhammad Djailani bin Hasan Ar-Raniry. Ketiga orang ulama ini telah banyak berjasa dalam mengajarkan dan mengilhami wawasan intelektual Iskandar Muda.Selain itu, dia juga rajin mendatangi dan bertanya kepada ulama-ulama lain yang berada di luar istana untuk mempejarai berbagai ilmu yang belum diketahuinya. Pada saat menjelang dewasa, karena Iskandar Muda memiliki keberanian yang luar biasa dibanding orang lain dalam hal menegakkan kebenaran, maka kawan-kawannya  dari barisan pemuda memberinya gelar Peurkasa Alam yang belakangan juga dikenal dengansebutan Makota (Meukuta) Alam.
Penobatan Sultan Iskandar MudaMenurut sumber-sumber Eropa yang merujuk pada peristiwa gagalnya penyerbuan Don Martin Affonso di Aceh, menyebutkan bahwa Iskandar Muda dinobatkan
sebagai Sultan pada tanggal 29 Juni 1606. Akan tetapi dalam naskah Bustanus-Salatin ditemukan keterangan bahwa dia diangkat sebagai Sultan pada 6 Zulhijjah 1015 H (awal April 1607 M). (Bustanus-Salatin II, XIII, 23). Tindakan pertama Sultan Iskandar Muda dalam mengawali karirnya adalah mengamankan golongan yang terdiri dari orang kaya yang sejak tahun 1604 telah bersekongkol menjadi oposisinya istana. Dia menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan segala tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para oposisi yang tidak mau memberikan dukungan dalam upaya menegakkan kebenaran. Di sisi lain, para generasi muda yang sebagian besar merupakan sahabat dan teman-temannya waktu kecil yang pernah belajar mengaji bersama memberikan dukungan yang sangat luar biasa. Itulah sebabnya mengapa kemudian dia disebut sebagai Sultan Iskandar Muda, tidak lain karena dia mempunyai pendukung utama dan bala tentara dari orang-orang muda atau orang-orang yang memiliki semangat muda.Kebijakan Sultan Iskandar Muda dalam Menegakkan Hukum dan Adat
Karena rakyat Aceh terdiri dan beberapa kaum dan sukee, maka Sultan Iskandar Muda mengangkat dan menetapkan pimpinan adat pada masing-masing kelompok sukee yang ada. Selain untuk menyatukan mereka pengangkatan pimpinan adat ini juga dimaksudkan untuk mempermudah penerapan berbagai program pemerintahannya.
1.     Untuk menjamin langgengnya kerajaan Aceh di bawah panji-panji persatuan, kedamaian dan kemakmuran Sultan Iskandar Muda kemudian menyusun tata negara atas empat bagian. (Ismuha: 1988, 155)
2.    Segala persoalan yang menyangkut tentang adat maka kebijaksanaannya diserahkan
3.    kepada sultan, penasehat dan orang-orang besarnya.
4.    Segala urusan hukum diserahkan kepada para ulama yang pada masa Syekh
5.    Nuruddin Ar-Raniry diangkat sebagai qadhi malikuladil.
6.    Urusan qanun,  majelis adab, sopan santun dan tertib dalarn pergaulan hidup bermasyarakat, termasuk mengenai berbagai upacara adat diserahkan kepada kebijaksanaan Maharani (Putroe Phang).
7.    Sedangkan urusan  reusam  (pertahanan dan keamanan) berada dalam kekuasaan
8.    Panglima Kaum atau Bentara pada masing-masing daerah.
Segala kebijakan mengenai adat, hukum, qanun dan reusam itu kemudian tertuang dalam sebuah hadih maja yang hingga saat ini masih dikenal dalam masyarakat Aceh yang berbunyi :
Adat bak poteu meureuhum, hukom bak syiah kuala Meujeuleueih kanun bak putroe phang, reusam bak bentara (laksamana).
Setelah menetapkan orang-orang yang bertanggungjawab mengatur masingmasing urusan tersebut, Sultan Iskandar Muda kemudian menyusun dan mengeluarkan berbagai  qanun  yang akan dijakdikan pegangan. Mengenai aturan yang menentukan martabat, hak dan kewajian segala Uleebalang serta pembesar kerajaan tertuang dalam sebuah qanun yang dikenal dengan adat meukota alam.Menurut naskah Adat Aceh, dalam menyusun  qanun  tersebut Sultan Iskandar Muda melibatkan para Syaikhul-Islam, Orang Kaya Sri Maharaja Lela, Penghulu Karkun Raja Setia Muda, Katibul Muluk Sri Indra Suara dan Sri Indra Muda beserta para perwiraperwira Balai Besar untuk membuat dan menyusun  qanun  (peraturan) yang  sesuai dengan tatakerama dan maklumat Raja. Di dalamnya memuat sebanyak sembilan fasal. Pada bagian pertama sangat jelas menggambarkan watak kewibawaan Sultan sebagai penguasa, di mana di dalamnya menguraikan tentang perintah segala raja raja.Selain itu,  qanun  yang dibuat pada masa Sultan Iskandar Muda juga dapat ditemukan dalam beberapa bagian dari naskah Tajus-Salatin yang ditulis oleh Bukhari AlJauhari. Bahkan beberapa bab dalam naskah ini secara khusus membahas secara manusiawi tentang bagaimana hubungan yang baik antara raja dengan rakyat termasuk masyarakat non muslim dan begitu juga sebaliknya. 

          Dalam naskah ini juga ditetapkan mengenai pegawai raja, pemimpin perang, penghulu dan uleebalang (Tajus-Salatin: 16). Dalam naskah Mahkota Raja-raja pada bagian ketiga secara khusus membahas tentang adat majelis raja-raja.Dari beberapa naskah kuno peninggalan abad ke-16 menunjukan bahwa Sultan Iskandar Muda memiliki kebijakan yang luar biasa dalam menetapkan berbagai  qanun (peraturan) yang menjamin kelangsungan hidup kerajaan Aceh. Sultan Iskandar Muda juga menetapkan rencong sebagai lambang kehormatan dan cap sebagai lambang kekuasaan tertinggi. Tanpa rencong berarti tidak ada pegawai yang mengaku bertugas menjalankan perintah raja. Setiap pegawai istana yang bertugas menyambut tamu asing wajib mengenakan rencong. Demikian pula halnya sebuah qanun (peraturan) yang dikeluarkan oleh raja akan mempunyai kekuatan setelah dibubuhi cap, tanpa cap peraturan itu tidak dapat dijadikan pegangan. Salah satu bentuk cap yang masih tersisa dari masa Kesultanan Aceh adalah Cap Sikureueng (cap sembilan). Pada lingkaran bagian tengah dari cap ini tertera nama raja yang sedang memerintah, sedangkan pada bagian sekeliling pinggirnya tertera nama delapan orang pendahulunya yang besar-besar. (Anomimous, 1988: i). Selain itu, Sultan Iskandar Muda juga menetapkan  qanun seuneubok lada  yang memuat tentang berbagai peraturan mengenai pertanian dan peternakan. (Zainuddin. 1957: 103). Dalam hal ini Sultan Iskandar Muda menetapkan beberapa sumber pajak penghasilan sebagai pemasukan devisa kerajaan. Sebagian besar kekayaan negara pada masanya berasal dari hasil sumber daya alam, baik berupa pajak sumbangan hasil pertanian, perikanan maupun dari hasil tambang.Hubungan Persahabatan dengan Dunia LuarSultan Iskandar Muda juga telah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsabangsa asing. Berdasarkan laporan yang dibuat sesudah ekspedisi sida-sida Cheng Ho ke lautan Selatan mengungkapkan bahwa kehadiran kapal-kapal Cina di Aceh merupakan bukti nyata bahwa bangsa Cina telah menjadikan daerah Aceh sebagai pemasok rempahrempah. (Groeneveldt, 1960: 85-88). Dalam sebuah peta laut Cina sebelum abad 17 ditemukan petunjuk jalan dari Banten ke Aceh melalui Barat Sumatera, juga melalui jalur-jalur lintas dari Aceh ke Malaka dan ke India. Selain itu, sebagai bukti yang  kuat tentang hubungan Cina dan Aceh dapat dilihat dari keberadaan Lonceng Cakra Donya yang hingga saat terdapat di Museum Negeri Aceh. Lonceng ini dihadiahkan oleh Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dalam rangka mengikat tali persahabatan. (Anonimous, 1988: ).Hubungan dagang Aceh dengan bangsa Siam sudah tercatat sejak masa kerajaanPasai tahun 1520. 

Hubungan dagang tersebut semakin meningkat pada masa kerajaan Aceh Darussalam di bawah Sultan  Iskandar Muda.  (Adat Aceh, 164b). Dalam  Hikayat Aceh  sarrga jelas disebutkan tentang adanya utusan-utusan dagang yang berasal dari Siam, Cina dan Campa pada masa Sultan Iskandar Muda. (Hikayat Aceh, Par. 214 - 223) dan (G.Coedes, Etats hindouises, 1964: 390).Selain itu, saudagar India pada masa Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu bangsa yang memegang bagian terbesar dari dunia perdagangan di Aceh. (Lancaster, 1940: 90). Selain membeli berbagai jenis barang berupa tembikar dan rempah-rempah, para saudagar India (dari Gujarat dan Malabar) itu juga membawa barang dagangan berupa bandela-bandela kapas, cita, ampiun dan guci besar yang berisi minyak susu lembu yang kesemuanya sangat digemari orang Aceh pada masa itu. (Dampier, 1723: 178).
Hubungan persahabatan dengan bangsa Eropa yang dalam sebagian besar naskah Melayu menyebut mereka bangsa  Peringgi  dapat dilihat dari adanya surat-surat raja Inggris, Penguasa Perancis, Portugis dan Belanda. (Djajadiningrat,  CritOv, 170) Sultan Iskandar Muda menjalin hubungan persahabatan dengan bangsa Peringgi tersebut bukan hanya dalam bidang perdagangan saja, tetapi juga mencakup bidang sosial, politik dan keamanan. Selain itu, secara khusus Sultan Iskandar Muda juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Turki melalui sepucuk surat persahabatan yang ditulis oleh Kadhi Malikul Adil Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Surat persahabatan itu selanjutnya disampaikan oleh utusan rombongan Aceh yang dikepalai oleh Pangiima Nyak Dum. (Zainuddin, 1957: 114-121) Sejak saat itu antara Kerajaan Aceh dan Turki terjalin hubungan yang sangat harmonis, bukan hanya dalam bidang perdagangan saja, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.Penaklukan Malaka ISetelah berhasil menyatukan kekuatan wilayah Pase (Sumatera), Sultan Iskandar Muda kembali merangcang sebuah usaha penyerangan terhadap wilayah yang terletak di semenanjung tanah Melayu. Wilayah ini dulunya sekitas tahun 1540-1586 masih merupakan wilayah kekuasaan Aceh. Namun karena sebuah hasutan, akhirnya wilayah ini jatuh ke tangan penjajah Portugis. Oleh karena itu, pada tahun 1616 Sultan Iskandar


Muda bersama para pembesar Kerajaan Aceh menyusun suatu rencana penyerangan untuk merebut kembali wilayah ini.Pada tahun 1618, Kedah dapat diambil alih oleh Kerajaan Aceh dari tangan penjajah Portugis. Kemudian pada tahun 1619 ditaklukkan pula wilayah Perak dan Pahang. Dengan demikian, wilayah kekuasaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda telah rneliputi hampir seluruh Sumatera dan Malaka, meskipun sebagian kecil kota Malaka masih diduduki  bangsa Portugis, seperti kota La Pamosa yang didirikan oleh Admiral Alfonso d'Albuquerque sekitar tahun 1511. (Zainuddin, 1957: 128-132).
Salah satu penyebab sulitnya menaklukan benteng Potugis yang terdapat dalam kota La Pamosa di Malaka karena Sultan Djohor campur tangan membantu Portugis. Selain dia telah mengingkari janji kesetiaannya terhadap Aceh, dia juga melupakan kalau dirinya masih mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan keluarga Sultan Aceh semenjak Sultan Alauddin Mansursyah. Oleh karena itu, pasukan yang diperintahkan Sultan Iskandar Muda dengan tekad yang luar biasa akhirnya berhasil mengepung daerah itu dan menangkap Sultan Johor bersama beberapa orang keluarga
dekatnya. 
                Ketika pasukan Aceh sedang membawa tawanan perang untuk kembali ke Aceh, Portugis rnendapat bantuan, sehingga perang sengit antara kedua belah pihak tidak dapat dihindari. Kapal-kapal perang Eropa dan Gua mulai rnenyerang dari segala arah membuat posisi armada Aceh semakin lemah. Menghadapi penyerangan Portugis  yang demikian besar, kapal-kapal armada Aceh terpaksa mengundurkan diri ke beberapa bagian pesisir dan muara di Bintan, kampar. Riau dan Benggalis. Sementara itu, bentengbenteng Aceh di Malaka yang telah berhasil diduduki sebelumnya masih tetap rnampu dikuasai.Menghadapi kekalahan itu, selanjutnya pasukan Aceh terpaksa menghentikan perang atas permintaan Gubernur Portugis yang berkuasa di Malaka pada saat itu. Tidak berapa lama berselang, Laksamana Aceh dan Gubemur Portugis di panggil untuk menghadap kepala perang Portugis guna mengadakan perundingan di atas kapal perang besar Portugis. Dengan berkedok perundingan, ternyata kepala perang Portugis mencoba membuat tipuan baru dengan cara melarikan Laksamana Aceh dengan beberapa orang perwiranya yang telah rnemasuki kapal itu tanpa tawar menawar.Laksamana Aceh dengan beberapa orang perwiranya yang telah berhasil dibawa kabur dengan kapal itu tidak dapat menerima penghinaan yang demikian. Oleh karena itu, dengan keberanian yang luar biasa dia membuat perlawanan di atas kapal Portugis itu hingga akhirnya dia tewas.Kekalahan yang harus diterima kerajaan Aceh atas penjajah Portugis di Malaka ini tidak lain disebabkan oleh adanya campur tangan Sultan Johor dalam membantu penjajah. Sementara itu, Aceh masih ragu-ragu dalam menyerang kerajaan Johor, karena masih merasa adanya ikatan tali persaudaraan yang kuat dengan mereka. Namun demikian, kekalahan ini tidak membuat semangat rakyat Aceh patah.Penaklukan Malaka IIPada tahun 1615 setelah selesai menyusun dan menetapkan berbagai  qanun dalam negeri Asahan, Sultan lskandar Muda kemudian mengatur strategi baru untuk menaklukkkan kembali negeri Malaka. Semua kekuatan armada perang Aceh diperintahkan berlayar menuju Semenanjung dengan berlabuh di Pulau Langkawi lalu menutup kuala Perlis, kuala Kedah, kuala Muda, kuala Meurbok, teluk Pulau Penang, Pulau Jerjak dan menutup kuala Peru. Demikian pula kuala-kuala besar, seperti kuala Karau, kuala Tengah, kuala Kelumpang, pulau Pangkur, teluk Tanjung Burong, kuala Bernam, kuala Perak, kuala Selangor sampai ke teluk Anson.

Begitu juga armada Aceh yang pada saat itu masih berada di teluk Tanjung Balai diperintahkan berlayar menuju Malaka dan berlabuh di pulau Kelang, Tanjung Tuan, kuala Tinggi, Tanjung Kling dan menutup kuala Melaka dan kuala Muar. Satu pasukan kapal perang lain disuruh berlabuh di muka kuala Sarang Buaya, Batu Pahat, kuala Peniti, Pulau Kutub, Tanjung Prai-prai dan menutup kuala Johor Baru untuk selanjutnya masuk ke sungai Johor lalu mendarat di Tumasik (Singapura). Pasukan lainnya diperintahkan menutup kuala-kuala di Pulau Batam dan sekitarnya. Demikianlah strategi kekuatan pasukan anmada laut Acen yang diperintahkan oleh Sultan Iskandar Muda untuk mengepung negeri Johor, Pahang dan Malaka dari segala arah.Daerah yang pertama diserang dan berhasil ditaklukkan adalah Johor. Walaupun Sultan Johor tidak dapat ditawan karena berhasil melarikan diri ke Tambilahan, namun Lingga (Ibukota) kerajaan Johor yang baru akhirnya jatuh ke tangan pasukan Aceh.Sedangkan salah seorang anak Sultan Johor berhasil ditangkap dan dibawa menghadap kepada Sultan Iskandar Muda. Dia kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda untuk menjadi Sultan yang baru di negeri Johor dengan dibantu oleh beberapa uleebalang dan ulama Aceh. (Zainuddin: 1957, 154-155). 
                    Sementara ayahnya dikabarkan sakit selama dalam pelariannya dan akhirnya meniggal di Tambilahan.Dengan takluknya negeri Johor maka kedudukan bangsa penjajah Portugis di seluruh semenanjung Malaka menjadi semakin lemah. Oleh karena itu, Aceh  kemudian dengan sangat mudah dapat rnenaklukkan pula negeri Pahang, Kedah dan Perak. Bahkan sebagian besar para pembesar dan rakyat di sana yang sebelumnya masih memihak dan mendukung Portugis, sejak saat itu mulai berbalik memusuhi mereka.PenutupDilihat dari sepanjang zaman perjalanan sejarah Aceh, hampir dari semua aspek kehidupan menunjukkan bahwa zaman Sultan Iskandar Muda-lah merupakan masa kejayaan Aceh. Dia tidak hanya mampu menyusun dan menetapkan berbagai konsep qanun (undang-undang dan peraturan) yang adil dan universal, tetapi juga mampu melaksanakannya secara adil dan universal pula. Sebagai seorang yang masih sangat muda menduduki tahta kerajaan (usia 18-19 tahun), kesuksesan Sultan Iskandar Muda sebagai penguasa Kerajaan Aceh Darussalam telah mendapat pengakuan bukan hanya dari rakyatnya,  tetapi juga dari musuh-musuhnya dan bangsa asing di seluruh dunia.Sultan lskandar Muda telah berhasil mengatur seluruh aspek kehidupan sedemikian rupa dalam Kerajaan Aceh Darussalarn. Dia telah berhasil menyatukan seluruh wilayah semenanjung tanah Melayu di bawah panji kebesaran Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam bidang ekonomi, dia telah berhasil menjalin hubungan diplomasi perdagangan dengan berbagai bangsa Asing, sehingga secara internasional Aceh tidakhanya dikenal sebagai sebuah negeri yang kaya dengan berbagai sumber daya alam saja, tetapi kekayaan alam itu benar-benar dapat dinikmati secara bersama oleh rakyatnya. 

Demikian juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan, dia telah menempatkan para ulama dan kaum cerdik pandai pada posisi yang paling mulia dan istimewa. Sehingga Kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan tamaddun di Asia Tenggara yang paling banyak dikunjungi oleh para kaum pelajar dari seluruh dunia.Oleh karena itu, para pembesar kerajaan bersama seluruh rakyat Aceh akhirnya sepakat memberikan sebuah gelar kehormatan Mahkota Alam  kepadanya. Dengan demikian, dia mempunyai nama Iengkap Paduka Seri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Selama lebih kurang 30 tahun, yaitu (1606 - 1636 M), dia telah berhasil membawa Kerajaan Aceh Darussalam ke atas puncak kejayaannya, hingga mencapai peringkat kelima di antara kerajaan Islam terbesar di dunia, yakni setelah kerajaan Islam Maroko, Isfahan, Persia dan Agra.
Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1636 M dan makamnya terletak dalam komplek Kandang Mas yang telah pernah dihancurkan Belanda. Yang ada sekarang ini merupakan duplikatnya hasil petunjuk Pocut Meurah isteri Sultan Mahmudsyah. Dia masih rnengingat letak Makam Sultan lskandar Muda, karena sebelum dihancurkan Belanda dia sering berziarah ke sana sambil menghitung langkahnya sebanyak 44 langkah dari pinggir Krueng Daroy.Untuk mengenang kebesaran dan jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993 telah mengangkat Sultan lskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional. (Anonimous, 1995: 3).
Kesultanan Aceh tahun 1636, Seorang Sultan Perkasa – Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam – yang menguasai Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris, dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.
Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.
Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal Jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadis Rasulullah, Ijma’ Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda inilah dikenal sebuah Kata Filosofis Rakyat Aceh :Adat bak Poteu meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana. Kata Filosofis ini menjadi pedoman hidup bagi kerajaan dan masyarakatnya untuk mengatur tata kehidupan dalam menegakan kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan masyarakat.
Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.
Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota – Meurah Pupok – yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.
MEMENGGAL KEPALA PUTRA SENDIRI DEMI HUKUM DAN KEADILAN
Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.
Di tengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.
Syahdan Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri di hadapan Sultan. Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan petir yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut. Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya, “Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini.” Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut di atas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.
Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata, “Akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan.”
Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh, “Gadoh aneuk meupat jrat, gadoh hukom ngon adat pat tamita ? Hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?”
Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.
Di bawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.
Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.
Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenazah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Keraton Darul Donya. Jenajah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Keraton yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.
Namun dalam sebuah buku karangan Rusdi sufi disebutkan bahwa:
Beberapa hari sebelum meinggal sultan iskandarmuda  telah memerintahkan kepada bawhannya untuk menyingkirkan anak laki-lakinya (Meurah pupok), yang merupakan putra satu-satunya kerena tindakan-tindakan si anak itu tidak di senganginya. R.A Hoesen Djajadiningrat menyebutkan bahwa sulatan iskandar Muda menghukum mati putranya (mengeksekusinya sendiri sendiri), karena kejahatan yang dilakukannya dan juga karena baginda takut kalau-kalau terjadi pertumpahan darah di kerajaan aceh bila sultan meninggal. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan penunjukan iskandar Thani, menantunya sebagai sebagai penggantinya sendiri, (mana yang benar mengenai riwayat ini hanya Allah yang tahu).
RATU PERTAMA KERAJAAN ACEH
Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh dan merupakan Ratu pertama Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu di sisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti putra kesayangan.
Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. (habahate)

SULTAN ISKANDAR MUDA OF ACEH


Indonesian From Wikipedia , the free encyclopedia



Painting pictures of Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda (Aceh,Banda Aceh1593 or 1590 -Banda AcehAceh27 September1636) Is sultan the greatest in the period Aceh Sultanate, who ruled from 1607 until 1636. Aceh reached its glory during the leadership of Iskandar Muda ,where an increasingly large territory and an international reputation as a center of trade and learning about Islam.

 Family and childhood
Origin
From the ancestral mother , Iskandar Muda is a descendant of King Dar al – Kamal , and from the ancestral father is a descendant of the royal family crown of Nature . Darul Kamal and crown – Alam said the settlement formerly the two neighboring ( separated by rivers) and the joint is the origin of Aceh Darussalam. Iskandar Muda alone represents the second branch, which is fully entitled to claim the throne .

His mother , named Princess Raja Indra Nation, which also named His Majesty the Shah Alam, is the son of Sultan Alauddin Shah Riayat,Sultan 10th ; where This sultan was the son of Sultan Shah ‘s Word , and Word Sultan Shah is the son or grandson (according Djajadiningrat ) Sultan of Inayat Shah , King of Darul – Kamal .

Raja Indra ‘s daughter is married to the Nation a massive ceremony with Sultan Mansur Shah , the son of Sultan Abdul – Jalil , where Abdul – Jalil is the son of Sultan Alauddin Shah al – Kahhar RiayatSultan
 Wedding
Sultan Iskandar Muda later married a princess from Sultanate of Pahang. Princess is known by the name Putroe Phang. It is said , because too love the emperor with his wife , the Sultan ordered the construction of fictional structure’s history in the middle field ( Castle Park ) as a sign of his love . Reportedly, the princess is always sad because it harbored a profound longing for home which is hilly . Therefore Sultan build Structure’s history mengubati longing for the princess . Until now, this structure’s history can still be seen and visited.
Reign
Sultan Iskandar Muda ‘s reign which began in 1607 until 1636, is the most glorious period for Aceh Sultanate, although on the other side of the tight control by Iskandar Muda , caused many rebellions in the future after the death of the Emperor.
Aceh is a very rich country and prosperous in its heyday . According to an explorer of origin France who arrived in Aceh in the heyday eraSultan Iskandar Muda Perkasa Alam Meukuta, The power reaching the west coast of Aceh Minangkabau. Aceh powers also include up to Silver .
When Iskandar Muda came to power in 1607, he soon made a naval expedition that caused him to gain effective control in the areanorthwest Indonesia. Full royal accomplished smoothly at all important ports on the west coast of Sumatra and on the east coast , to theShavings in the south. Sailing conquest waged far into Penang, on the east coast Malays Peninsula, and foreign merchants were forced to submit to him . His kingdom wealthy , and became the center of science.

Controls on domestic
According to the tradition of Aceh , Iskandar Muda Aceh region divided into administrative regions called uleebalangs and habitation; This was reinforced by reports of a French explorer named Beauliu , that “Iskandar Muda clearing out almost all of the old nobility and created a new aristocracyHabitation1 initially is the set of several villages to support an mosque headed by a Priest (AcehImeum) . Uleebalangs(WitherCommander) Initially perhaps the major subordinate Sultan , who was awarded the Sultan of several mukims , to manage as a feudal owners . This pattern in djumpai Aceh Besar and in lands conquered Aceh important .

Relationship with a foreign nation
English
On 16th century, Queen EnglishElizabeth I, Sent his envoy named Sir James Lancester to the Kingdom of Aceh and send a letter addressed : “To Civil Servant , King of Aceh Darussalam.” and a set of high- value jewelry . Sultanate of Aceh at that time did receive good intentions ” sister ” in the UK and allow UK to anchor and to trade on the territory of Aceh . Even the Sultan also sent valuable gifts , including a pair of bracelets of rubies and a letter written on fine paper with gold ink . Sir James was awarded the title ” Rich White People . “

Sultan also reply to a letter from Queen Elizabeth I. Here are excerpts of the letter the Sultan of Aceh , which is still kept by the government of the British Empire , dated 1585 year :
I am the mighty Ruler of the Regions below the wind , the WHO holds sway over the land of Aceh and over-the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh , Which stretch from the sunrise to the sunset.
( present yourselves mighty ruler Countries under the wind , which accumulated on the ground in Aceh and on land Sumatra and over the whole area is subject to the Aceh region , which stretches from horizon sunrise to sunset) .
intimate relationship between Aceh and the King of England continued in James I of England and Scotland . King James sent a cannon as a gift to the Sultan of Aceh . The cannon is still preserved and known by the name of King James Cannon .
Netherlands
In addition to the United Kingdom, Prince Maurits – founder Oranje dynasty- also had sent a letter with the intention of asking the help of the Sultanate of Aceh Darussalam. Sultan welcomed their good intentions by sending emissaries to party Netherlands. The delegation was led by Tuanku Abdul Hamid.

The conquest of Iskandar Muda, 1608-1637.
The successes of Iskandar Muda were based on his military strength. His armed forces consisted of a navy of heavy galleys each with 600-800 men, a cavalry using Persian horses, an elephant corps, conscripted infantry forces  and more than 2000 cannons and guns (of both Sumatran and European origin).  Upongaining power, he began consolidating control over northern Sumatra. In 1612 he conquered Deli, and in 1613 Aruand Johor. Upon the conquest of Johor, its sultan, Alauddin Riayat Syah II, and other members of the royal family were brought to Aceh, along with a group of traders from theDutch East India Company. However, Johor was able to expel the Acehnese garrison later that year, and Iskandar Muda was never able to assert permanent control over the area. Johor further built an alliance with PahangPalembangJambiInderagiriKampar andSiak against Aceh.

Iskandar Muda’s campaigns continued, however, and he was able to defeat a Portuguesefleet at Bintan in 1614. In 1617 he conquered Pahang and carried its sultan Ahmad Syahto Aceh, and thus achieved a foothold on the Malayan peninsula.This conquest was followed by Kedah in 1619, in which the capital was laid waste and the surviving inhabitants were brought to Aceh. A similar capture of Perak occurred in 1620, when 5,000 people were captured and left to die in Aceh. He again sacked Johor in 1623 and took Nias in 1624/5. At this point Aceh’s strength seriously thretened the Portuguese holding of Melaka. In 1629, he sent several hundred ships to attack Melaka, but the mission was a devastating failure. According to Portuguese sources, all of his ships were destroyed along with 19,000 men. After this loss, Iskandar Muda launched only two more sea expeditions, in 1630/1 and 1634, both to suppress revolts in Pahang. His sultanate maintained control over northern Sumatra, but was never able to gain supremacy in the strait or expand the empire to the rich pepper-producing region of Lampung on the southern part of the island, which was under the control of the sultanate of Banten.

Sultan Iskandar Muda’s tomb in Banda Aceh
The economic foundations of the sultanate was the spice trade, especially in pepper. The conflicts between Aceh and Johor and Portuguese Melacca, as well as the numerous pepper-producing ports in the sultanate’s domain, were the main causes of the military conflict. Other major exports included cloves and nutmegs, as well as betel nuts, whose narcotic properties bypassed the Muslim prohibition of alcohol. Exports, encouraged by the Ottoman Sultans as an alternative to the “infidel” (i.e. Portuguese)-controlled route around Africa, added to the wealth of the sultanate. Iskandar Muda also made shrewd economic decisions that supported growth, such as low interest rates and the widespread use of small gold coins (mas).However, like other sultanates in the area it had trouble compelling the farms in the hinterland to produce sufficient excess food for the military and commercial activities of the capital. Indeed, one of the aims of Iskandar Muda’s campaigns was to bring prisoners-of-war who could act as slaves for agricultural production.

One reason for Iskandar Muda’s success, in contrast to the weaker sultans who preceded and succeeded him, was his ability to suppress the Acehnese elite, known as the orang kaya (“powerful men”). Through the royal monopoly on trade, he was able to keep them dependent on his favor. The orang kaya were forced to attend court where they could be supervised, and were prohibited from building independent houses, which could be used for military purposes or hold cannons. He sought to create a new nobility of “war leaders” (Malay languagehulubalangAcehneseuleëbalang), whom he gave districts (mukim) in feudal tenure. After his reign, however, the elite often supported weaker sultans, in order to maintain their own autonomy. He also sought to replace the Acehnese princes with royal officials called panglima, who had to report annually and were subject to periodic appraisal. An elite palace guard was created, consisting of 3,000 women. He passed legal reforms which created a network of courts using Islamic jurisprudence. His system of law and administration became a model for other Islamic states in Indonesia.

Iskandar Muda’s reign was also marked by considerable brutality, directed at disobedient subjects. He also did not hesitate to execute wealthy subjects and confiscate their wealth. Punishments for offenses were gruesome; a French visitor in the 1620s reported “every day the King would have people’s noses cut off, eyes dug out, castrations, feet cut off, or hands, ears, and other parts mutilated, very often for some very small matter.” He had his own son killed, and named his son-in-law, the son of the captured sultan of Pahang, as his successor, Iskandar Thani.

During Iskandar Muda’s reign, eminent Islamic scholars were attracted to Aceh and made it a center of Islamic scholarship. Iskandar Muda favored the tradition of the Sufi mystics Hamzah Pansuri and Syamsuddin of Pasai, both of whom resided at the court of Aceh. These writers’ works were translated into other Indonesian languages, and had considerable influence across the peninsula. Both were later denounced for their heretical ideas by Nuruddin ar-Raniri, who arrived in the Aceh court during the reign of Iskandar Thani, and their books were ordered to be burnt.

The chronicle Hikayat Aceh (“The Story of Aceh”) was probably written during the reign of Iskandar Muda, although some date it later.It describes the history of the sultanate and praises Iskandar Muda in his youth. It was apparently inspired by the Persian Akbarnama for the Mogul Emperor Akbar.

Among the Acehnese, Iskandar Muda is revered as a hero and symbol of Aceh’s past greatness. Posthumously he was given the titlePo Teuh Meureuhom, which means “Our Beloved Late Lord,or “Marhum Mahkota Alam”.
He has several buildings and structures in and near Banda Aceh named after him, including the Sultan Iskandarmuda Airport and Sultan Iskandar Muda Air Force Base. Kodam Iskandar Muda is the name of the military area commands overseeing Aceh Province.
====================================================
The Sultanate of Aceh was established by Sultan Ali Mughayatsyah in 1511. Then, During itsgolden era) in the 15th century, its territory and political influence expanded as far as Satun in southern ThailandJohor in Malay Peninsula, and Siak in what is today the province of Riau. As was the case with most non-Javan pre-colonial states, Acehnese power expanded outward by sea rather than inland. As it expanded down the Sumatran coast, its main competitors were Johor and Portuguese Malacca on the other side of the Straits of Malacca. It was this seaborne trade focus that saw Aceh rely on rice imports from north Java rather than develop self sufficiency in rice production.

After the Portuguese occupation of Malacca in 1511, many Islamic traders passing theMalacca Straits shifted their trade to Banda Aceh and increased Acehnese rulers’ wealth. During the reign of Sultan Iskandar Muda in 17th century, Aceh’s influence extended to most ofSumatra and the Malay Peninsula. Aceh allied itself with the Ottoman Empire and the Dutch East India Company in their struggle against the Portuguese and the Johor Sultanate. Acehnese military power waned gradually thereafter, and Aceh ceded its territory of Pariamanin Sumatra to the Dutch in 18th century.

By the early nineteenth century, however, Aceh had become an increasingly influential power due to its strategic location for controlling regional trade. In the 1820s it was the producer of over half the world’s supply of black pepper. The pepper trade produced new wealth for the Sultanate and for the rulers of many smaller nearby ports that had been under Aceh’s control, but were now able to assert more independence. These changes initially threatened Aceh’s integrity, but a new sultan Tuanku Ibrahim, who controlled the kingdom from 1838 to 1870, reasserted power over nearby ports.

Under the Anglo-Dutch Treaty of 1824 the British ceded their colonial possessions on Sumatra to the Dutch. In the treaty, the British described Aceh as one of their possessions, although they had no actual control over the Sultanate. Initially, under the agreement the Dutch agreed to respect Aceh’s independence. In 1871, however, the British dropped previous opposition to a Dutch invasion of Aceh, possibly to prevent France or the United States from gaining a foothold in the region. Although neither the Dutch nor the British knew the specifics, there had been rumors since the 1850s that Aceh had been in communication with rulers of France and of the Ottoman Empire.
General Kohler, commandant of Dutch troops, died after shot by Acehnese sniper during first aggression to Aceh
Pirates operating out of Aceh threatened commerce in the Strait of Malacca; the sultan was unable to control them. Britain was a protector of Aceh and gave the Netherlands permission to eradicate the pirates. The campaign quickly drove out the sultan but the local leaders mobilized and fought the Dutch in four decades of guerrilla war, with high levels of atrocities. The Dutch colonial government declared war on Aceh on 26 March 1873. Aceh sought American help but was rejected by Washington.

The Dutch tried one strategy after another over the course of four decades. An expedition under Major General Johan Harmen Rudolf Köhler in 1873 occupied most of the coastal areas. It was his strategy to attack and take the Sultan’s palace. It failed. They then tried a naval blockade, reconciliation, concentration within a line of forts, then passive containment. They had scant success. Reaching 15 to 20 million guilders a year, the heavy spending for failed strategies nearly bankrupted the colonial government.

The Aceh army was rapidly modernized, and Aceh soldiers managed to kill Köhler (a monument to this achievement has been built inside Grand Mosque of Banda Aceh). Köhler made some grave tactical errors and the reputation of the Dutch was severely harmed. In addition, in recent years in line with expanding international attention to human rights issues and atrocities in war zones, there has been increasing discussion about the some of the recorded acts of cruelty and slaughter committed by Dutch troops during the period of warfare in Aceh.

Hasan Mustafa (1852–1930) was a chief ‘penghulu,’ or judge, for the colonial government and was stationed in Aceh. He had to balance traditional Muslim justice with Dutch law. To stop the Aceh rebellion, Hasan Mustafa issued a fatwa, telling the Muslims there in 1894, “It is Incumbent upon the Indonesian Muslims to be loyal to the Dutch East Indies Government”.
Tuanku Muhammad Daudsyah Johan Berdaulat, the last Sultan of Aceh.
In the late 18th and early 19th Centuries, Koh Lay Huan – the firstKapitan Cina of Penang, had good contacts with the English-and-French-speaking Sultan of Aceh, Jauhar al-Alam. The Sultan allowed Koh to gather pepper plants in Aceh to begin pepper cultivation in Penang. Later, about 1819, Koh helped Sultan Jauhar al-Alam put down a rebellion by Acehnese territorial chiefs.

In the 1820s, as Aceh produced over half the world’s supply of pepper, a new leader, Tuanku Ibrahim, was able to restore some authority to the Sultanate and gain control over the “pepper rajas” who were nominal vassals of the Sultan by playing them off against each other. He rose to power during the Sultanate of his brother, Muhammad Syah, and was able to dominate the reign of his successor Sulaiman Syah (r. 1838–1857), before taking the Sultanate himself, under the title Sultan Ali Alauddin Mansur Syah (1857–1870). He extended Aceh’s effective control southward at just the time when the Dutch were consolidating their holdings northward.

Britain, heretofore guarding the independence of Aceh in order to keep it out of Dutch hands, re-evaluated its policy and concluded the Anglo-Dutch Treaty of Sumatra, which allowed for Dutch control throughout Sumatra in exchange for concessions in the Gold Coast and equal trading rights in northern Aceh. The treaty was tantamount to a declaration of war on Aceh, and the Aceh War followed soon after in 1873. As the Dutch prepared for war, Mahmud Syah (1870–1874) appealed for international help, but no one was willing or able to assist.

In 1874 the Sultan abandoned the capital, withdrawing to the hills, while the Dutch announced the annexation of Aceh. He eventually died of cholera, as did many combatants on both sides, but the Acehnese proclaimed a grandson of Tuanku Ibrahim Sultan. The local rulers of Acehnese ports nominally submitted to Dutch authority in order to avoid a blockade, but they used their income to support the resistance.

However, eventually many of them compromised with the Dutch, and the Dutch were able establish a fairly stable government in Aceh with their cooperation, and get the Sultan to surrender in 1903. After his death in 1907, no successor was named, but the resistance continued to fight for some time.


Sultan Ali Mughayat Syah’s tomb inBanda Aceh

Sultan tomb complex from era before Iskandar Muda in Banda Aceh

Sultan Iskandar Muda’s tomb in Banda Aceh

A complex of tomb of Acehnese sultan from Bugis descendant in Banda Aceh
Iskandar Muda of Aceh 1593 – 1636 
File:Aceh Sultanate en.svg
Economy and administration
File:Jirat Soleutan Eseukanda Muda.JPG
Culture
Legacy
Aceh War
Main article: Aceh War
File:Generaal Kohler sneuvelt in de Mesigit.jpg
Later years and conquest by the Dutch
File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van de Sultan van Atjeh TMnr 10001853.jpg
Lineage







Sultan of AcehReign
Ali Mughayat Syah1496–1528
Salahuddin1528–1537
Alauddin al Qahhar1537–1568
Husain Ali I Riayat Syah1568–1575
Muda1575
Sri Alam1575–1576
Zainal Abidin1576–1577
Alauddin II Mansur I Syah1577–1589
Buyong1589–1596
Alauddin III Riayat Syah Sayyid al-Mukammil1596–1604
Ali II Riayat Syah1604–1607
Iskandar Muda1607–1636
Iskandar Thani1636–1641
Ratu Safiatuddin Tajul Alam1641–1675
Ratu Naqiatuddin Nurul Alam1675–1678
Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah1678–1688
Ratu Kamalat Syah Zinatuddin1688–1699
Badrul Alam Syarif Hashim Jamaluddin1699–1702
Perkasa Alam Syarif Lamtui Syah Johan Berdaulat1702–1703
Jamal ul Alam Badrul Munir1703–1726
Jauhar ul Alam Aminuddin1726
Syamsul Alam1726–1727
Alauddin IV Ahmad Syah1727–1735
Alauddin V Johan Syah1735–1760
Mahmud I Syah1760–1781
Badruddin Syah1764–1785
Sulaiman I Syah1775–1781
Alauddin VI Muhammad I Daud Syah1781–1795
Alauddin VII Jauhar ul Alam1795–1815
Syarif Saif ul Alam1815–1818
Alauddin VII Jauhar ul Alam (second time)1818–1824
Muhammad II Syah1824–1838
Sulaiman II Syah1838–1857
Mansur II Syah1857–1870
Mahmud II Syah1870–1874
Muhammad III Daud Syah Johan Berdaulat1874–1903


 

Most Reading